Jumat, 18 April 2014




Dalam tataran kehidupan, komunikasi dinilai sebagai suatu keniscayaan. Ia merupakan aktivitas yang tidak bisa terbantahkan dan senantiasa terjadi sepanjang waktu. Pernyataan ini akan tetap menemui kebenarannya sampai dokumentasi peradaban manusia berakhir, mengingat kata-kata Alwasilah bahwa nurani terdalam yang ada pada diri manusia adalah keinginan dirinya diakui dan dimengerti oleh anggota masyarakat lainnya. Sebuah pribahasa Prancis mengatakan, “mengerti berarti memaafkan segalanya”.[1] Jadi, lewat komunikasi, manusia mengungkapkan seluruh gagasannya, menjelaskan proposisi-proposisi yang dipikirkannya, mengungkapkan situasi hatinya, menyatakan perasaanya, mempengaruhi pikiran dan tingkah laku anggota masyarakat lainnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dan untuk memberi respon emosional terhadap suasana.
Harold D. Laswell salah seorang peletak dasar ilmu komunikasi lewat ilmu politik menyebut tiga fungsi dasar yang menjadi penyebab, mengapa manusia perlu berkomunikasi.
            Pertama, adalah hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya. Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui peluang yang ada untuk dimanfaatkan, dipelihara dan menghindar pada hal-hal yang mengancam alam sekitarnya. Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui suatu kejadian atau peristiwa. Bahkan melalui komunikasi manusia dapat mengembangkan pengetahuannya, yakni belajar dari pengalamannya, maupun melalui informasi yang mereka terima dari lingkungan sekitarnya.
            Kedua, adalah upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Proses kelanjutan suatu masyarakat sesungguhnya tergantung bagaimana masyarakat itu bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Penyesuaian disini bukan saja terletak pada kemampuan manusia memberi tanggapan terhadap gejala alam seperti banjir, gempa bumi dan musim yang mempengaruhi perilaku manusia, tetapi juga lingkungan masyarakat tempat manusia hidup dalam tantangan. Dalam lingkungan seperti ini diperlukan penyesuaian, agar manusia dapat hidup dalam suasana yang harmonis.
            Ketiga, adalah upaya untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi. Suatu masyarakat yang ingin mempertahankan keberadaannya, maka anggota masyarakatnya dituntut untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peranan. Misalnya bagaimana orangtua mengajarkan tatakrama bermasyarakat yang baik kepada anak-anaknya. Bagaimana sekolah difungsikan untuk mendidik warga negara. Bagaimana media massa menyalurkan hati nurani khalayaknya, dan bagaimana pemerintah dengan kebijaksanaan yang dibuatnya untuk mengayomi kepentingan anggota masyarakat yang dilayaninya.
Dengan demikian bahwa komunikasi jelas tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Ia diperlukan untuk mengatur tatakrama pergaulan antar manusia, sebab berkomunikasi dengan baik akan memberi pengaruh langsung pada struktur keseimbangan seseorang dalam bermasyarakat, apakah ia seorang dokter, dosen, manajer, pedagang, pramugari, pemuka agama, penyuluh lapangan, pramuniaga, dan lain sebagainya. Sehingga, keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam mencapai sesuatu yang diinginkan termasuk karir mereka, banyak ditentukan oleh kemampuannya berkomunikasi.[2]
Begitu urgennya komunikasi sampai dalam pengajaran bahasa asing sering diartikan lebih serius sebagai kemampuan menggunakan simbol secara bermakna sebagai wujud pemakaian bahasa sehari-hari. Bahkan ia menjadi kata kunci dalam konteks menguasai bahasa bersama dengan penggunaan, simbol, dan ma’na. Demikian ini karena komunikasi merupakan salah satu aspek penting bahasa bahkan dapat dipandang sebagai fungsi utama dari bahasa.[3]
Profesor DR. Imam Suprayogo dalam artikelnya, memberikan pencerahan dalam mengajarkan bahasa asing. Beliau menuturkan, mengembangkan bahasa asing kuncinya adalah mengajak mereka untuk bisa berkomunikasi. Guru harus menjelaskan secara terus menerus tanpa henti, bahwa siapapun di zaman modern seperti sekarang ini, bagi orang yang tidak mampu berbahasa asing akan ketinggalan, dan sebagai akibatnya akan rugi dalam segala hal. Semangat dan keyakinan untuk bisa inilah modal utama yang harus dimiliki oleh siapapun yang mau belajar bahasa asing.
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa para santri Pondok Pesantren Gontor Ponorogo, al Amien Sumenep, dan pondok pesantren lainnya dalam waktu singkat bisa berbahasa Arab dan juga Bahasa Inggris dengan baik. Beberapa pondok pesantren tersebut dalam mengajarkan bahasa asing itu mungkin menggunakan prinsip seperti yang disampaikan di atas. Para santrinya diajak bisa berbahasa asing dan bukan sebatas diajak belajar. Mereka ditanamkan pengertian dan keyakinan bahwa belajar bahasa asing, yang terpenting adalah bermodalkan kemauan, kepercayaan, anthusiasme dan tekat untuk bisa berkomunikasi.[4]
Sebagai buktinya, para pembelajar bahasa yang sudah diajak belajar rata-rata lima jam perhari selama setahun serta lembaga pendidikan bersangkutan telah dilengkapi dengan laboratorium, buku-buku dan bahkan juga telah memiliki guru native speaker. Tetapi, ternyata juga masih belum berhasil menguasai bahasa asing.
Berbicara tentang pembelajaran bahasa asing, bahasa Arab penting artinya bagi bangsa Indonesia sebagai negara yang sebagian besar penduduknya beragama Islam terutama sesudah terjadinya hubungan erat dengan Arab Saudi.
Memang tidak wajib bagi semua elemen manusia memiliki pemikiran yang seragam. Tapi,  pendidik yang peduli dan menyadari akan adanya perkembangan bahasa[5] oleh adanya hubungan ini harus berani melakukan penelusuran lebih lanjut guna menemukan beberapa kosakata/bahkan ungkapan-ungkapan modern yang muncul termasuk pergolakan aturan menata konsepsi teks dan struktur simbol-simbol bahasa dalam komunikasi, sehingga menjadi objek keilmuan yang utuh, lalu mempraktikkannya.


[1] Prof. DR. A. Chaedar al-Wasilah, Filsafat BAHASA dan PENDIDIKAN, (Bandung: PTREMAJA ROSDAKARYA, 2010), Cetakan kedua, hal. 45.
[2]Cangara, Hafied. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta.
                   [3] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat BAHASA Mengungkap Hakikat bahasa Ma’na dan Tanda, (Bandung: PTREMAJA ROSDAKARYA, 2009), cetakan kedua, hal. 26.
[5] Menurut buku METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB Edisi Revisi, Ahmad Izzan 4 faktor dinamika perkembangan bahasa. Yaitu, faktor sosial, faktor kebudayaan, faktor agama, dan faktor politik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar