Dalam tataran
kehidupan, komunikasi dinilai sebagai suatu keniscayaan. Ia merupakan aktivitas
yang tidak bisa terbantahkan dan senantiasa terjadi sepanjang waktu. Pernyataan
ini akan tetap menemui kebenarannya sampai dokumentasi peradaban manusia
berakhir, mengingat kata-kata Alwasilah bahwa nurani terdalam yang ada pada
diri manusia adalah keinginan dirinya diakui dan dimengerti oleh anggota
masyarakat lainnya. Sebuah pribahasa Prancis mengatakan, “mengerti berarti
memaafkan segalanya”.[1]
Jadi, lewat komunikasi, manusia mengungkapkan seluruh gagasannya, menjelaskan
proposisi-proposisi yang dipikirkannya, mengungkapkan situasi hatinya,
menyatakan perasaanya, mempengaruhi pikiran dan tingkah laku anggota masyarakat
lainnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dan untuk memberi respon
emosional terhadap suasana.
Harold D. Laswell salah seorang peletak dasar ilmu komunikasi lewat
ilmu politik menyebut tiga fungsi dasar yang menjadi penyebab, mengapa manusia
perlu berkomunikasi.
Pertama, adalah
hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya. Melalui komunikasi manusia
dapat mengetahui peluang yang ada untuk dimanfaatkan, dipelihara dan menghindar
pada hal-hal yang mengancam alam sekitarnya. Melalui komunikasi manusia dapat
mengetahui suatu kejadian atau peristiwa. Bahkan melalui komunikasi manusia
dapat mengembangkan pengetahuannya, yakni belajar dari pengalamannya, maupun
melalui informasi yang mereka terima dari lingkungan sekitarnya.
Kedua, adalah
upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Proses
kelanjutan suatu masyarakat sesungguhnya tergantung bagaimana masyarakat itu
bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Penyesuaian disini bukan saja terletak
pada kemampuan manusia memberi tanggapan terhadap gejala alam seperti banjir,
gempa bumi dan musim yang mempengaruhi perilaku manusia, tetapi juga lingkungan
masyarakat tempat manusia hidup dalam tantangan. Dalam lingkungan seperti ini
diperlukan penyesuaian, agar manusia dapat hidup dalam suasana yang harmonis.
Ketiga, adalah
upaya untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi. Suatu masyarakat
yang ingin mempertahankan keberadaannya, maka anggota masyarakatnya dituntut
untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peranan. Misalnya bagaimana
orangtua mengajarkan tatakrama bermasyarakat yang baik kepada anak-anaknya.
Bagaimana sekolah difungsikan untuk mendidik warga negara. Bagaimana media
massa menyalurkan hati nurani khalayaknya, dan bagaimana pemerintah dengan
kebijaksanaan yang dibuatnya untuk mengayomi kepentingan anggota masyarakat
yang dilayaninya.
Dengan demikian
bahwa komunikasi jelas tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan umat manusia,
baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Ia diperlukan untuk
mengatur tatakrama pergaulan antar manusia, sebab berkomunikasi dengan baik
akan memberi pengaruh langsung pada struktur keseimbangan seseorang dalam
bermasyarakat, apakah ia seorang dokter, dosen, manajer, pedagang, pramugari,
pemuka agama, penyuluh lapangan, pramuniaga, dan lain sebagainya. Sehingga,
keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam mencapai sesuatu yang diinginkan
termasuk karir mereka, banyak ditentukan oleh kemampuannya berkomunikasi.[2]
Begitu urgennya
komunikasi sampai dalam pengajaran bahasa asing sering diartikan lebih serius
sebagai kemampuan menggunakan simbol secara bermakna sebagai wujud pemakaian
bahasa sehari-hari. Bahkan ia menjadi kata kunci dalam konteks menguasai bahasa
bersama dengan penggunaan, simbol, dan ma’na. Demikian ini karena komunikasi
merupakan salah satu aspek penting bahasa bahkan dapat dipandang sebagai fungsi
utama dari bahasa.[3]
Profesor DR.
Imam Suprayogo dalam artikelnya, memberikan pencerahan dalam mengajarkan bahasa
asing. Beliau menuturkan, mengembangkan bahasa asing kuncinya adalah mengajak
mereka untuk bisa berkomunikasi. Guru harus menjelaskan secara terus menerus
tanpa henti, bahwa siapapun di zaman modern seperti sekarang ini, bagi orang
yang tidak mampu berbahasa asing akan ketinggalan, dan sebagai akibatnya akan
rugi dalam segala hal. Semangat dan keyakinan untuk bisa inilah modal utama
yang harus dimiliki oleh siapapun yang mau belajar bahasa asing.
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa para santri Pondok Pesantren
Gontor Ponorogo, al Amien Sumenep, dan pondok pesantren lainnya dalam waktu
singkat bisa berbahasa Arab dan juga Bahasa Inggris dengan baik. Beberapa
pondok pesantren tersebut dalam mengajarkan bahasa asing itu mungkin
menggunakan prinsip seperti yang disampaikan di atas. Para santrinya diajak
bisa berbahasa asing dan bukan sebatas diajak belajar. Mereka ditanamkan
pengertian dan keyakinan bahwa belajar bahasa asing, yang terpenting adalah
bermodalkan kemauan, kepercayaan, anthusiasme dan tekat untuk bisa
berkomunikasi.[4]
Sebagai buktinya, para pembelajar bahasa yang sudah diajak belajar
rata-rata lima jam perhari selama setahun serta lembaga pendidikan bersangkutan
telah dilengkapi dengan laboratorium, buku-buku dan bahkan juga telah memiliki
guru native speaker. Tetapi, ternyata juga masih belum berhasil menguasai
bahasa asing.
Berbicara
tentang pembelajaran bahasa asing, bahasa Arab penting artinya bagi bangsa
Indonesia sebagai negara yang sebagian besar penduduknya beragama Islam
terutama sesudah terjadinya hubungan erat dengan Arab Saudi.
Memang tidak
wajib bagi semua elemen manusia memiliki pemikiran yang seragam. Tapi, pendidik yang peduli dan menyadari akan
adanya perkembangan bahasa[5]
oleh adanya hubungan ini harus berani melakukan penelusuran lebih lanjut guna
menemukan beberapa kosakata/bahkan ungkapan-ungkapan modern yang muncul termasuk
pergolakan aturan menata konsepsi teks dan struktur simbol-simbol bahasa dalam
komunikasi, sehingga menjadi objek keilmuan yang utuh, lalu mempraktikkannya.
[1]
Prof. DR. A. Chaedar al-Wasilah, Filsafat BAHASA dan PENDIDIKAN, (Bandung:
PTREMAJA ROSDAKARYA, 2010), Cetakan kedua, hal. 45.
[2]Cangara,
Hafied. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. PT RajaGrafindo Persada.
Jakarta.
[4]Prof.
DR. Imam Suprayogo, Belajar Bahasa Asing, http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=300:8-10-2008&catid=25:artikel-imam-suprayogo. Diakses pada
23-03-2014.
[5]
Menurut buku METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
Edisi Revisi, Ahmad Izzan 4 faktor dinamika perkembangan bahasa. Yaitu, faktor
sosial, faktor kebudayaan, faktor agama, dan faktor politik.